Tampilkan postingan dengan label AK-DASAR-JASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AK-DASAR-JASA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

10. PENUTUPAN BUKU dan JURNAL PEMBALIK

Kegunaan Jurnal Penutup

Saldo akun yang tercantum di neraca akan terus diakumulasikan dari tahun ke tahun, sedangkan saldo akun yang ada di laporan laba rugi dan saldo akun penarikan pemilik tidak diakumulasikan dari tahun ke tahun. Karena akun-akun ini hanya melaporkan jumlah-jumlah pada satu periode saja,

Akun nominal hanya menunjukkan jumlah-jumlah pada satu periode saja, maka akun ini harus mempunyai saldo nol pada awal periode. Untuk menjadikan saldo akun nominal menjadi nol maka dibuat jurnal penutup. Pada periode berikutnya semua akun nominal pada awal periode akan mempunyai saldo nol. Dengan demikian akan dapat dipisahkan saldo-saldo akun nominal dari periode ke periode berikutnya


  

Menyiapkan Jurnal Penutup

Untuk membuat jurnal penutup diperlukan satu akun untuk mengumpulkan akun pendapatan dan akun beban. Akun yang dimaksud adalah akun Ikhtisar Laba Rugi atau akun laba rugi. Akun ikhtisar laba rugi bersifat sementara untuk menampung pendapatan dan beban-beban yang memunculkan satu angka laba atau rugi yang kemudian dipindah ke modal pemilik.


Tahap-tahap Penutupan Buku Menutup Akun Nominal

1. Menutup semua akun pendapatan dengan memindahkan akun pendapatan ke akun ikhtisar laba rugi ( mendebit pendapatan dan mengkredit ikhtisar laba rugi).
2. Menutup semua akun beban dengan cara memindahkan akun beban ke ikhtisar laba rugi (mendebit ikhtisar laba rugi dan mengkredit beban-beban).
3. Menutup akun ikhtisar laba rugi dengan memindahkan saldo akun tersebut ke akun modal. Ada dua kemungkinan yang terjadi:
a. Jika Perusahaan memperoleh laba, maka ikhtisar laba rugi di debit dan modal di kredit.
b. Jika Perusahaan mengalami rugi, maka modal didebit dan ikhtisar laba rugi di kredit.
4. Menutup akun prive dengan memindahkan saldo akun prive ke akun modal (mendebit modal dan mengkredit prive).

Jurnal penutup yang dibuat tergantung bentuk perusahaan yaitu perusahaan perseorangan, firma dan perseroan terbatas. Hal ini disebabkan struktur modal yang berbeda diantara ketiga jenis perusahaan.  




Jurnal Penutup                                     Debit                Kredit   
a. Pendapatan                                      xx                   
       Ikhtisar laba rugi                                                    xx
(jumlah sesuai pendapatan)                                          
                                                                                               
b. Ikhtisar laba rugi                              xx                   
       Beban gaji                                                             xx
       Beban sewa                                                           xx
       Beban perlengkapan                                              xx
(jumlah sebesar total beban)                                         
                                                                                               
c. Ikhtisar laba rugi                              xx                   
       Modal Pemilik (Modal )                                         xx
(nilai sebesar laba)                                                       
                                                                                               
d. Modal Pemilik (Modal)                    xx                   
       Prive                                                                     xx
(nilai sebesar prive)                                                      
                                                           

Tahapan penyusunan jurnal penutup adalah sebagai berikut:
1. Jika akun pendapatan dan beban diposting ke akun ikhtisar laba rugi maka saldo akun ikhtisar laba rugi mencerminkan laba atau rugi. Akun ikhtisar laba rugi memiliki saldo debit, berarti perusahaan rugi dan sebaliknya, akun ikhtisar laba rugi memiliki saldo kredit berarti perusahaan mengalami laba. Jurnal penutup untuk mencatat peristiwa ini sebagaimana dalam jurnal a dan b. Angka laba atau rugi kemudian dipindahkan ke modal sebagimana pada jurnal penutup c. Pada ilustrasi ini perusahaan mengalami laba, sehingga modal bertambah.
2. Apabila dalam suatu perusahaan terjadi penarikan, maka akan mengurangi modal sebagaimana nampak pada jurnal penutup d. Saldo modal perusahaan setelah jurnal penutup diposting akan sesuai dengan yang tercantum dalam neraca akhir.
3.  Setelah proses posting terhadap saldo ikhtisar laba rugi, maka saldo ikhtisar laba rugi akan menjadi nol.

Pada akhir periode akuntansi, jumlah sisi debit dan sisi kredit dijumlahkan dan setelah jurnal penutup dibukukan maka akun-akun nominal akan seimbang, dengan kata lain saldo pada akun nominal akan menjadi nol. Jumlah sisi debit dan sisi kredit yang telah seimbang, kemudian diberi garis dobel, yang menunjukkan bahwa penggunaan akun tersebut pada periode yang bersangkutan telah berakhir dan siap digunakan kembali pada periode berikutnya.

Pada akun riil, jumlah sisi debit dan sisi kredit harus dijumlahkan namun tidak perlu ditutup, karena saldo akun riil akan dibawa ke periode berikutnya. Pada akhir periode akuntansi, akun riil digunakan untuk menyeimbangkan akun, dan awal periode berikutnya selisih tersebut akan dipakai sebagai saldo awal akun riil yang bersangkutan.


Jurnal Penutup untuk Perusahaan Persekutuan

Jurnal penutup untuk perusahaan persekutuan hampir sama dengan jurnal penutup pada perusahaan perseorangan, kecuali:
1. Pemindahan saldo akun laba rugi ke akun modal. Karena pemilik perusahaan perusahaan persekutuan lebih dari satu orang, maka terdapat lebih dari satu akun modal pemiliki perusahaan, yakni sejumlah pemilik perusahan persekutuan tersebut. Oleh karena itu, pembagian laba atau rugi perusahaan harus dibagikan kepada para sekutu dengan cara pembagian yang diatur dalam anggaran dasar perusahaan.
2.  Perusahaan persekutuan memiliki lebih dari satu akun modal.
3. Para sekutu diperbolehkan melakukan penarikan (prive) dalam batas tertentu, sehingga akun prive juga lebih dari satu.
4.  Hasil pembagian laba atau rugi dipindahkan dari akun laba rugi ke akun modal melalui akun prive masing-masing.

Untuk lebih memahami tentang penutupan pada perusahan persekutuan berikut ini diberi contoh proses penutupan yang terjadi di CV Frida.

CV Frida dengan anggota sekutu Frida, Icha dan Bayu, selama periode 2015 memperoleh laba bersih Rp. 600.000.000,-. Dalam perjanjian, laba bersih akan dibagi rata antara para sekutu. Saldo akun prive dalam buku besar sebelum penutupan terlihat sebagai berikut: Prive, Frida senilai Rp. 55.000.000,-, Prive, Icha Rp. 40.000.000,- dan Prive, Bayu sebesar Rp. 25.000.000,-.

Prosedur penutupan dan beban sama seperti perusahaan perseorangan. Setelah dipindahkan ke akun ikhtisar laba rugi maka saldo ikhtisar laba rugi sebesar Rp. 600.000.000,- dan saldo ini akan dibagi ke para sekutu. Laba/rugi sebesar Rp. 600.000.000,- dipindahkan ke akun prive masing-masing sekutu dengan jurnal penutup sebagai berikut:

dalam Rp. 000,-)
Jurnal Penutup                                     Debit (Rp)        Kredit (RP)                                                          
Ikhtüar laba rugi                                   600.000,-       
       Prive, Frida                                                           200.000,-
       Prive, Icha                                                             200.000,
       Prive, Bayu                                                            200.000,
 (jurnal penutup untuk pembagian laba kepada sekutu)              

Setelah jurnal penutup di atas diposting maka saldo akun prive masing-masing sekutu sebagai berikut:

Prive, Frida           : Rp. 200.000.000,-       --- Rp. 55.000.000,-     = Rp. 145.000.000,-
Prive, Icha            : Rp. 200.000.000,-       --- Rp. 40.000.000,-     = Rp. 160.000.000,-
Prive, Bayu           : Rp. 200.000.000,-       --- Rp. 25.000.000,-     = Rp. 175.000.000,-

Penutupan tersebut akan nampak pada buku besar sebagai berikut:

Saldo akun prive pada perusahaan persekutuan kadang-kadang tidak dipindahkan ke akun modal para sekutu melainkan tetap dibiarkan dalam akun prive sebagai akun riil dan dicantumkan dalam neraca pada bagian modal.

Pada Laporan Neraca per 31 Desember 2015, pada sisi modal, penyajian akun modal masing-masing sekutu yang besarnya Rp. 300.000.000,- dengan akun privenya akan nampak sebagai berikut::

Modal            
Modal, Frida                  Rp. 300.000.000,-                      
Prive, Frida                    Rp. 145.000.000,-                       Rp. 445.000.000,-

Modal, Icha                   Rp. 300.000.000,-                      
Prive, Icha                      Rp. 160.000.000,-                       Rp. 460.000.000,-

Modal, Angga                Rp. 300.000.000,-                      
Prive, Angga                  Rp. 175.000.000,-                       Rp. 475.000.000,-


Jurnal Penutup untuk Perusahaan Perseroan

Pada perusahaan perseroan penutupan akun pendapatan dan akun beban akan sama seperti perusahaan perseorangan dan perusahaan persekutuan. Perbedaannya terletak pada:
1.  Penutupan akun laba rugi karena struktur modal pada perusahaan perseroan berupa saham.
2.  Para pemegang saham tidak diperkenankan mengambil prive. Bagian laba yang diambil oleh pemegang saham disebut dividen.
3.  Sedangkan laba yang tidak dibagikan ke pemegang saham ditampung dalam akun yang disebut akun saldo laba.

Berikut ini gambaran untuk membuat jurnal penutup pada perusahaan perseroan:
Selama tahun 2015 PT NAUVAL FAWWADI telah memperoleh laba sebesar Rp. 5.000.000.000,-. Dari laba yang diperoleh tersebut, jumlah yang dibagikan kepada pemegang saham adalah Rp. 2.000.000.000,-. Jurnal yang dibuat sebagai berikut:

dalam Rp. 000,-)
Jurnal Penutup                                     Debit (Rp)        Kredit (RP)
 Ikhtisar Laba                                       5.000.000       
       Saldo Laba                                                            5.000.000
Mencatat pemindahan laba ke saldo laba                                  
                                                                                               
Saldo Laba                                          2.000.000       
       Dividen                                                                  2.000.000
Mencatat penutupan deviden ke, saldo laba                              

Akun saldo laba merupakan akun riil dan dicantumkan dalam neraca di bawah modal saham.
Dari pembahasan di atas, kita dapat membuat tahapan siklus akuntansi yang diperlukan pada suatu perusahaan. Dari tahapan tersebut, kita bisa melihat bahwa suatu siklus akuntansi dimulai dengan menganalisis transaksi bisnis dan diakhiri dengan penyusunan neraca saldo setelah tutup buku.

Tahap pertama sampai ketiga terjadi setiap hari selama periode akuntansi tahap keempat sampai dengan ketujuh disusun berdasarkan periode tertentu seperti bulanan atau tahunan. Tahapan kedelapan dan kesembilan, yaitu pembuatan jurnal penutup, neraca saldo setelah tutup buku dan biasanya hanya disiapkan pada akhir periode akuntansi.

Pada tahapan tersebut masih terdapat dua tahapan pilihan dalam siklus akuntansi, yaitu sebuah neraca lajur bisa digunakan dalam menyusun jurnal penyesuaian dan laporan keuangan. Selain itu, jurnal pembalik bisa juga digunakan sebagaimana yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.


Kegunaan Jurnal Pembalik (Reversing Entry)

Pada akhir periode perusahaan membuat jurnal penutup untuk akun nominal. Pada periode berikutnya sebelum melakukan transaksi perusahaan kadang-kadang merasa perlu untuk membuat jurnal balik / jurnal penyesuaian kembali.

Tujuan pembuatan jurnal balik ini adalah:
1. Untuk menyederhanakan pembuatan jurnal pada periode berikutnya. Pembuatan jurnal balik ini akan bermanfat jika perusahan membuat jurnal yang banyak jumlahnya.
2.  Meminimalkan kekeliruan yang mungkin terjadi.

Jurnal pembalik adalah jurnal yang digunakan untuk membalik jurnal penyesuaian, artinya jika di jurnal penyesuaian ayat jurnal menunjukkan debit maka untuk jurnal pembalik ayat jurnal ini diletakkan sebelah kredit dan sebaliknya. Tidak semua jurnal penyesuaian perlu dibalik, tapi hanya beban akrual (beban yang ditangguhkan pembayarannya) sehingga muncul utang dan pendapatan akrual (pendapatan yang masih harus diterima) muncul piutang.

Jurnal pembalik bukan merupakan keharusan melainkan suatu pilihan untuk membuat atau tidak. Jika perusahaan membuat jurnal pembalik kemungkinan kekeliruan kecil


Menyiapkan Jurnal Pembalik

Sebelum pembahasan ini, marilah kita ingat terlebih dahulu tahapan yang diperlukan dalam siklus akuntansi di bawah ini:  


Jurnal pembalik yang biasanya dilakukan dalam praktik meliputi:
1. Membalik/ Menyesuaikan Kembali Utang Beban.
2. Membalik/ Menyesuaikan Kembali Piutang Contoh : Piutang Bunga

Jurnal penyesuaian kembali/ jurnal pembalik bertujuan untuk menyederhanakan transaksi yang terjadi berulang-ulang. Namun tidak semua transaksi yang terjadi berulang-ulang perlu disesuaikan kembali/ dibalik. Contoh transaksi yang berulang-ulang dan tidak perlu dibuatkan jurnal pembalik adalah adalah penyusutan aktiva tetap.

Selasa, 05 April 2016

07. PENYESUAIAN dan KOREKSI AKUN

Kebutuhan Penyesuaian

Para akuntan harus tahu beban apa saja dan berapa besarnya yang ditanggung perusahaan untuk memperoleh pendapatan yang dapat diakui pada periode akuntansi tertentu. Ada dua prinsip sebagai bagian dari prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum, yaitu:
·    prinsip pengakuan pendapatan dan
·       prinsip penandingan (matching concept). 

Dasar akuntansi akrual  beban dan pendapatan yang berhubungan harus dilaporkan pada periode yang sama. Contohnya:
·      beban gaji harus dilaporkan sebagai beban pada periode dimana karyawan memberikan jasa, bukan pada saat upah/gaji dibayarkan.
·   pendapatan harus dilaporkan pada saat jasa selesai diberikan pada pelanggan bukan pada saat perusahaan menerima pembayaran dari pelanggan. 

Konsep penandingan merupakan konsep yang mendukung pelaporan pendapatan dan beban terkait pada periode yang sama.

Ketika sebuah asumsi yang menyatakan bahwa seluruh umur ekonomis suatu perusahaan dapat dibagi kedalam beberapa periode akuntansi, maka prinsip pengakuan pendapatan dan penandingan dapat diaplikasikan.  

Hubungan antara asumsi periode akuntansi dengan prinsip pengakuan pendapatan dan prinsip penandingan dapat dilihat pada gambar di bawah ini 


Dasar   akrual   dan konsep penandingan ini mengharuskan dilakukannya analisis terhadap akun dan pemutakhiran atas saldo akun dalam rangka penyiapan laporan keuangan.

Proses pemutakhiran saldo akun pada suatu periode disebut dengan proses penyesuaian.  

Jadi proses pemutakhiran saldo-saldo akun ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dan memutakhirkan akun pada akhir periode akuntansi sehingga dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya pada harta, hutang, pendapatan dan beban.  

Ayat jurnal yang memutakhirkan akun pada akhir periode disebut dengan ayat jurnal penyesuaian. Suatu ayat jurnal penyesuaian akan selalu melibatkan akun pendapatan atau beban dan akun harta atau utang.

Jenis-jenis Penyesuaian 


1.  Penangguhan
·       Beban yang ditangguhkan / beban dibayar dimuka (persekot), yaitu beban-beban yang sudah dibayar tetapi sebagian beban sebenarnya harus dibebankan pada periode yang akan datang. Pencatatan bisa diakui sebagai beban dan juga bisa diakui sebagai harta.
·       Pendapatan yang ditangguhkan / pendapatan diterima dimuka (utang), yaitu pendapatan yang sudah di terima tetapi sebenarnya sebagian pendapatan itu untuk periode berikutnya. 

2. Pos akrual
·       Beban akrual (utang beban) adalah beban yang masih harus dibayar, yaitu beban yang sudah menjadi utang tetapi perusahaan belum mencatat.
·   Pendapatan akrual (Piutang pendapatan) adalah pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi belum dicatat 

3.  Pos lainnya
·        Penyusutan (depresiasi) yaitu penggunaan harta tetap berwujud yang harus dibebankan pada suatu periode akuntansi. Penyusutan ini akan menjadi beban depresiasi.
·   Perlengkapan yang digunakan yaitu sebagian dari harga beli perlengkapan yang sudah digunakan selama satu periode. Perlengkapan yang di gunakan akan menjadi beban perlengkapan.
·        Kerugian piutang  yaitu taksiran dari piutang usaha yang kemungkinan tidak bisa ditagih.


Jurnal Penyesuaian 


Jurnal penyesuaian dibuat pada akhir periode akuntansi. Proses ini diawali dengan analisis transaksi atau informasi untuk melihat pengaruh suatu transasksi ke akun-akun, baik ke akun neraca maupun akun laba rugi.

Analisis dilakukan terhadap informasi yang terjadi pada akhir periode. Setiap informasi (baik berupa catatan manajemen maupun transaksi) dianalisis dan kemudian ayat-ayat jurnal penyesuaian dibuat.

Dibawah ini ditunjukkan bagaimana ayat-ayat jurnal penyesuaian disusun  

1. Gaji yang belum di bayar dan dicatat
Biaya-biaya yang sudah menjadi beban pada suatu periode tetapi sampai akhir suatu periode belum di bayar dan dicatat, harus dicantumkan dalam neraca sebagai Utang beban serta harus sudah termasuk dalam beban pada periode tersebut dengan kata lain sudah termasuk dalam neraca saldo.

Maka ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan adalah:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Beban Gaji                                                X.XXX      
          Utang Gaji                                                          X.XXX

2. Pendapatan jasa yang masih harus diterima (piutang pendapatan)
Apabila suatu pendapatan telah menjadi hak perusahaan tetapi belum diterima pada akhir suatu periode yang bersangkutan, maka hak tersebut harus dilaporkan sebagai pendapatan pada periode tersebut dan dilakukan penyesuaian terhadap pendapatan perusahaan.

Maka ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Piutang Pendapatan                                     X.XXX      
          Pendapatan Jasa                                                  X.XXX

3. Premi yang tersisa
Seringkali perusahaan melakukan pembayaran beban untuk beberapa periode mendatang.
Dalam akuntansi ini diakui sebagai beban dibayar dimuka. Apabila pada akhir suatu periode dijumpai beban-beban yang seharusnya dilaporkan pada periode mendatang, maka harus dilakukan penyesuaian untuk menetapkan mana beban yang menjadi bagian yang dilaporkan pada periode mendatang dan mana yang harus dilaporkan pada periode yang bersangkutan.

Dengan demikian ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan adalah:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Beban premi                                               X.XXX      
          Premi Dibayar Dimuka                                         X.XXX

4. Sewa yang digunakan (terpakai)
Penjelasan kasus ini sama dengan kasus (3a) di atas. Saldo akun sewa dibayar dimuka tidak menunjukkan saldo akun yang sebenarnya, karena sewa yang telah digunakan selama periode tersebut masih termasuk dalam jumlah saldo ini. Sehingga diperlukan penyesuaian untuk mengakui beban sewa dan mengurangi saldo sewa dibayar dimuka

Maka ayat ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Beban sewa                                                X.XXX      
          Sewa Dibayar Dimuka                                         X.XXX

5. Pendapatan jasa diterima di muka
Pendapatan diterima dimuka tidak boleh diperlakukan sebagai pendapatan, melainkan harus diakui sebagai utang, sebab pada hakekatnya perusahaan belum memiliki hak atas pendapatan tersebut.

Dengan demikian ayat jurnal penyesuaian yang diperlukan adalah:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Pendapatan Diterima Dimuka                      X.XXX      
          Pendapatan Sewa                                                X.XXX

6. Penyusutan peralatan
Pada setiap akhir periode, perusahaan biasanya harus mencatat pengakuan beban depresiasi atau beban penyusutan.,-.

Ayat jurnal untuk mencatat beban depresiasi (beban penyusutan) adalah:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Beban Penyusutan Peralatan                        X.XXX      
          Akumulasi Penyusutan Peralatan                           X.XXX

7. Perlengkapan yang tersisa
Perlengkapan    adalah  bahan bahan yang dibeli dengan maksud untuk digunakan dalam operasi perusahaan, tidak untuk dijual kembali. Perlengkapan akan dicatat dan dilaporkan sebesar harga belinya. Apabila selama periode akuntansi, perusahaan tidak melakukan pencatatan pemakaian perlengkapan, maka pada akhir periode perlu dilakukan perhitungan fisik atas perlengkapan yang masih tersisa sehingga dapat ditentukan jumlah perlengkapan yang terpakai pada periode yang bersangkutan. Jumlah pemakaian perlengkapan tersebut kemudian dicatat dalam buku melalui ayat jurnal penyesuaian.

Dengan demikian ayat jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat pemakaian perlengkapan ini adalah:
Nama Akun                                              Debit          Kredit
Beban Perlengkapan                                   X.XXX      
          Perlengkapan                                                       X.XXX

Telah dijelaskan di bagian sebelumnya bahwa dalam siklus akuntansi, setelah ayat-ayat jurnal dibuat di buku harian langkah berikutnya adalah memindahkan (memposting) ayat jurnal ke akun-akun akun di buku besar.

Demikian juga setelah ayat jurnal penyesuaian dibuat, tahapan berikutnya adalah memposting ayat jurnal penyesuaian ke akun di buku besar.

Selanjutnya saldo untuk setiap akun diposting ke buku besar untuk menghitung jumlah akun yang sebenarnya. Saldo akun-akun yang disesuaikan kemudian disusun dalam neraca yang disebut neraca saldo setelah disesuaikan.

Informasi ayat-ayat jurnal penyesuaian kemudian digunakan untuk menyusun neraca saldo yang telah disesuaikan. Proses penyusunan neraca saldo setelah penyesuaian dilakukan dengan menggabungkan (menambah atau mengurangi) saldo yang ada di neraca saldo dengan ayat penyesuaian yang ada.


Koreksi dan Ayat Jurnal Koreksi


Koreksi diperlukan karena kesalahan-kesalahan yang terjadi. Kesalahan terjadi bisa pada waktu menjurnal atau pada waktu memposting. Kesalahan demikian tidak boleh dikoreksi dengan cara menghapus, sebab akan menimbulkan kecurigaan seakan-akan telah terjadi ketidakbenaran atau kecurangan.

Terdapat dua jenis kesalahan dan prosedur koreksi untuk setiap jenis kesalahan, yaitu:
1.  Kesalahan ditemukan sebelum jurnal di posting ke buku besar.
2. Kesalahan ditemukan setelah jurnal di posting ke buku besar, maka prosedur koreksi adalah membuat jurnal koreksi. Jurnal koreksi di buat dengan memperhatikan jurnal yang salah (yang telah dibuat) dan jurnal yang benar ( yang seharusnya).

Senin, 04 April 2016

09. LAPORAN KEUANGAN

Jenis-jenis Laporan Keuangan 

Dalam bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa neraca lajur merupakan alat bantu untuk memudahkan dalam membuat laporan keuangan yang meliputi:
1.  Laporan laba rugi (Income Statement)
2.  Laporan perubahan modal (Owner’s Equity Statement)
3.  Neraca (Balance Sheet)
4.  Laporan arus kas (Statement of Cash Flows)
5.  Catatan atas laporan keuangan (Notes of Financial Statement)

1. Laporan laba rugi
Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang melaporkan mengenai aktivitas operasional perusahaan dengan memperhitungkan pendapatan dan beban¬beban selama satu periode yang kemudian dapat ditentukan laba atau rugi. Laporan keuangan dari neraca lajur dapat disusun dari data kolom ke 7 dan kolom ke 8 yang dibuat dalam bentuk laporan. 

Ada dua pendekatan dalam mencatat dan menggolongkan serta mengikhtisarkan transaksi-transaksi yang terjadi di dalam perusahaan. Pendekatan itu adalah dasar tunai (cash basis) dan dasar waktu (accrual basis). 

Akuntansi dengan dasar tunai adalah suatu sistem yang mengakui penghasilan pada saat uang tunai diterima dan mengakui beban saat mengeluarkan uang tunai. Metode ini cocok untuk perusahaan dengan skala kecil karena metode ini kurang tepat untuk mengakui laba atau rugi pada periode tertentu. 

Sedangkan akuntansi dengan dasar waktu adalah suatu sistem yang mengakui pendapatan pada saat terjadinya transaksi, walaupun sudah atau belum menerima uang tunai dan mengakui beban pada saat terjadinya transaksi walaupun sudah atau belum mengeluarkan uang tunai. 

Metode ini sangat tepat untuk perusahaan yang melakukan transaksi secara kredit, karena laporan laba rugi akan mencerminkan kondisi yang benar selama satu periode tertentu. Pembahasan disini akan ditekankan pada metode dasar waktu (accrual basis). 

Dalam menyusun laporan laba rugi, terdapat tiga akun yang perlu dipahami dengan jelas yaitu:

a.  Pendapatan
    Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa (reguler) dan dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda, seperti penjualan, penghasilan jasa (fee), bunga, deviden, royalti dan sewa.
b.  Beban
    Beban adalah pengorbanan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa (reguler), seperti beban pokok penjualan, beban gaji, beban sewa, beban penyusutan harta tetap, beban asuransi, beban pajak, beban kerugian piutang, beban perlengkapan.
c.  Laba atau Rugi
   Laba terjadi jika pendapatan lebih besar dari beban-beban yang terjadi, sebaliknya rugi terjadi jika pendapatan lebih kecil dari pada beban-beban yang terjadi.    

Akun-akun yang ada dalam laporan laba rugi (biasanya disebut dengan akun nominal) untuk perusahaan jasa meliputi pendapatan atau penghasilan, beban operasi, laba operasi, pendapatan lain-lain, beban lain-lain, laba bersih, pajak penghasilan, laba bersih setelah pajak.           

Pendapatan adalah hasil dari pemberian jasa yang diberikan kepada pelanggan yang merupakan mata usaha pokok dan normal perusahaan. Misalnya untuk perusahaan konsultan, maka pendapatannya berassal dari fee yang diberikan oleh pelanggan, pendapatan Salon Kecantikan adalah ongkos pelayanan salon kepada pelanggannya, pendapatan rental komputer adalah sewa komputer yang dibayar oleh pelanggan. 

Beban Operasi adalah semua beban yang dikeluarkan atau terjadi dalam hubungannya dengan aktifitas operasi perusahaan. Misalnya beban telepon, beban listrik dan telepon, beban rapat, beban suplies, beban penyusutan dan sebagainya. 

Laba operasi merupakan selisih antara pendapatan dan beban operasi, sedangkan pendapatan dan beban lain-lain merupakan pendapatan di luar pendapatan pokok perusahaan, seperti pendapatan bunga. Beban lain-lain adalah beban yang tidak berkaitan dengan kegiatan operasi pokok perusahaan, seperti rugi penjualan harta tetap dan beban bunga. 

Laba bersih sebelum pajak merupakan hasil pengurangan laba operasi dengan pendapatan dan beban lain-lain di luar operasi dan laba bersih setelah pajak yaitu pendapatan bersih perusahaan baik yang berasal dari kegiatan operasional perusahaan maupun non operasional, setelah dikurangi pajak penghasilan. Bila hasilnya positif dapat menambah modal pemilik, apabila hasilnya negatif maka disebut dengan rugi bersih yang akan mengurangi modal pemilik. 

2. Laporan Perubahan Modal
Yaitu laporan keuangan yang menunjukan perubahan modal selama satu periode. Laporan modal terdiri dari saldo awal modal pada neraca saldo setelah disesuaikan di tambah laba bersih selama satu periode dikurangi dengan pengambilan prive. Laporan perubahan modal dari neraca lajur diperoleh dari data kolom 9 dan 10. 

Komponen laporan perubahan modal adalah:
a.  Modal awal Diperoleh dari investasi awal ataupun penambahan investasi.
b.  Laba atau rugi
Laba perusahaan akan menambah modal perusahaan, sedangkan rugi akan mengurangi modal perusahaan.
c.  Penarikan (prive)
Apabila sebagian laba diambil oleh pemilik untuk kepentingannya sendiri di luar kepentingan perusahaan, maka kejadian ini akan mengurangi modal pemilik. Jika bentuk perusahaan adalah perseorangan atau firma maka penarikan disebut Prive dan jika berbentuk perseroan (PT) penarikan disebut Dividen.
Apabila laba lebih besar dari pada penarikan maka akan ada kenaikan modal, sebaliknya jika laba
lebih kecil dari penarikan maka akan terjadi penurunan modal.
d.  Modal akhir
Modal akhir adalah saldo modal awal ditambah laba rugi dikurangi penarikan. 

3. Neraca
Yaitu laporan keuangan yang menunjukan posisi harta, utang dan modal pada periode tertentu. Neraca merupakan perluasan dari persamaan dasar akuntansi. Data untuk menyusun laporan neraca diambil dari neraca lajur kolom ke 11 dan ke 12.

Isi dari neraca secara garis besar adalah sebagai berikut:
a.  Kelompok Harta, yang terdiri dari:
•       Harta Lancar.
•       Investasi jangka panjang.
•       Harta tetap
•       Harta yang tidak berwujud.
•       Harta lain-lain
b.  Utang
•       Utang lancar
•       Utang jangka panjang
•       Utang lain-lain
c.  Modal
•       Modal saham
•       Agio/Disagio saham
•       Cadangan-cadangan
•       Saldo laba 

Harta adalah kekayaan atau sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan dan diharapkan akan memberi manfaat di masa yang akan datang. Harta terdiri dari: 

a.  Harta Lancar (Current Assets)
Harta lancar adalah uang tunai dan saldo rekening giro di bank serta kekayaan-kekayaan lain yang dapat diharapkan bisa dicairkan menjadi uang tunai atau rekening giro bank, atau dijual maupun dipakai habis dalam operasi perusahaan, dalam jangka pendek. Yang dimaksud jangka pendek di sini adalah satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, dipilih mana yang lebih panjang.
Yang termasuk harta lancar adalah:
•       Kas, yaitu saldo uang tunai pada tanggal neraca.
•       Bank, yaitu saldo rekening giro di bank pada tanggal neraca.
•       Surat berharga jangka pendek
•       Piutang
•       Persediaan, yaitu barang berwujud yang tersedia untuk dijual, diproduksi atau masih dalam proses.
•       Beban yang dibayar di muka. 

b.  Investasi jangka panjang (Long-term Investments)
Kelompok ini terdiri dari harta berjangka panjang (tidak utuk dicairkan dalam waktu satu tahun atau kurang) yang diinvestasikan bukan untuk menunjang kegiatan operasi pokok perusahaan.

Yang termasuk kelompok investasi jangka panjang antara lain:
•       penyertaan pada perusahaan dalam bentuk saham, obligasi atau surat berharga lainnya.
•       dana untuk tujuan-tujuan khusus, seperti dana untuk pelunasan hutang jangka panjang.
•       tanah yang tidak dipakai untuk lokasi usaha. 

c.  Harta Tetap (Fixed Assets)
Harta tetap adalah harta berwujud yang digunakan untuk operasi normal perusahaan, mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau satu siklus operasi normal, dan tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai barang dagangan.
Yang tergolong harta ini adalah:
•       tanah untuk lokasi usaha
•       gedung
•       mesin-mesin dan peralatan produksi
•       peralatan kantor
•       kendaraan. 

d.  Harta Tak Berwujud (Intangible Assets)
Harta tak berwujud terdiri dari hak-hak istimewa atau posisi yang menguntungkan perusahaan dalam memperoleh pendapatan. Contohnya adalah hak paten, hak cipta, franchise, merk dagang atau logo dan goodwill. 

e.  Harta Lain-lain (Other Assets)
Harta ini digunakan untuk menampung harta yang tidak bisa digolongkan sebagai harta lancar , investasi jangka panjang, harta tetap dan harta tetap tak berwujud. Contoh dari kategori ini adalah mesin yang tidak dipakai dalam operasi. 

Utang dapat digolongkan menjadi:
a.  Utang lancar (Current Liabilities)
Utang lancar meliputi utang yang harus diselesaikan dalam jangka pendek atau jangka satu tahun atau jangka satu siklus operasi normal perusahaan.
Yang tergolong utang lancar adalah:
•       hutang usaha
•       beban yang masih harus dibayar
•       pendapatan yang diterima di muka
•       utang pajak
•       utang bunga 

b. Utang Jangka Panjang (Long-term Debts)
Utang jangka panjang adalah utang yang jatuh temponya melebihi satu periode akuntansi atau lebih dari satu tahun.
Yang termasuk utang jangka panjang adalah:
•       utang hipotik
•       utang obligasi 

c.  Utang Lain-lain (Other Liabilities)
Utang lain-lain adalah utang yang tidak bisa digolongkan ke utang lancar dan utang jangka panjang.
Modal menunjukkan hak milik para pemilik harta perusahaan yang diukur atau ditentukan besarnya dengan menghitung selisih antara harta dan utang. 
    Jenis modal berdasar bentuk perusahaan:
N0.    Bentuk Perussahaan                   Jenis modal
1.       Perusahaan Perseorangan           Modal Pemilik
2.       Perusahaan Persekutuan             Modal sekutu
3.       Perusahaan Perseroan                Modal Saham

4. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menunjukan sumber dan penggunaan kas selama satu periode sehingga saldo kas nampak seperti di neraca, laporan arus kas membutuhkan data/informasi dari neraca periode sebelumnya dan periode yang bersangkutan dan laporan laba rugi pada periode yang kebersangkutan. 

5. Catatan atas Laporan Keuangan
Yaitu laporan keuangan yang menunjukkan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang tertera dalam dalam neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas serta informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar, seperti utang kontinjensi dan komitmen.

Bentuk Laporan Keuangan 


1.  Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi dapat disusun dalam dua bentuk, yaitu:
a.  Bentuk Multiple Step
b.  Bentuk Single Step

Dalam bentuk multiple step, laporan laba rugi disusun bertahap, sehingga dikenal beberapa jenis laba seperti laba kotor, laba bersih operasi, laba bersih sebelum pajak dan laba bersih setelah pajak.

Laporan laba rugi dalam bentuk single step hanya dikenal laba bersih karena dalam bentuk ini semua penghasilan dikurangi beban¬beban termasuk pajak dilaporkan sekaligus tanpa dipisah-pisahkan seperti dalam multiple step. 



2.  Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal mencerminkan berubahnya modal dari awal sampai dengan menjadi modal akhir.  

3.  Neraca
Neraca merupakan laporan keuangan yang menyajikan harta, utang dan modal suatu perusahaan pada satu saat tertentu. Neraca dapat disajikan dalam:
·        Bentuk perkiraan / skontro (akun)
·        Bentuk laporan / stafel (report form) 

Dalam bentuk perkiraan, neraca dibagi sisi sebelah kiri dan sisi sebelah kanan, yaitu sisi kiri untuk harta dan sisi kanan untuk pasiva yaitu utang dan modal. Dengan bentuk laporan semua akun dalam neraca

disusun berurutan ke bawah. Urutan yang pertama adalah kelompok harta, kelompok utang dan kelompok modal. 

Dalam menyusun neraca perlu diperhatikan untuk selalu mencantumkan:
·        nama perusahaan
·        judul Neraca
·        tanggal neraca.